Setiap 10 Maret, warga Tibet memperingati peristiwa perlawanan kepada penjajahan Tiongkok yang meletus pada 10 Maret 1959. Buntut kejadian tersebut, pemimpin Spiritual Tibet Dalai Lama pun mengungsi ke India hingga sekarang.
Dua tahun lalu, diawali demonstrasi damai para biksu pada 10 Maret, meletuslah kerusuhan yang mengakibatkan 20 orang tewas empat hari kemudian. Nah, Beijing sangat khawatir insiden yang sama terulang kali ini.
Untuk itulah, siapa saja yang dicurigai langsung diciduk. "Ada sekitar 500 orang yang telah ditangkap," kata sejumlah warga Tibet di Lhasa yang dihubungi The Times.
Namun, sulit mengonfirmasi kabar tersebut karena Beijing menutup perbatasan Tibet dari warga asing sejak Selasa lalu (9/3). Otoritas Tiongkok juga tidak mau berkomentar mengenai kabar penangkapan tersebut. Moratorium terkait pengeluaran izin berkunjung bagi orang non-Tiongkok ke Lasha juga ditetapkan.
Beijing juga telah mengeluarkan surat peringatan untuk hotel dan rumah tangga di seluruh Lhasa. Mereka dilarang mengizinkan biksu dari luar Tibet menginap dalam beberapa hari ke depan.
Sementara itu, polisi memeriksa identitas tiap warga Tibet yang melintas di dekat Kuil Jokhang, tempat paling dikeramatkan warga setempat. Mereka diminta menunjukkan tiga dokumen. Yakni, kartu identitas, izin tinggal sementara, dan surat keterangan memasuki Lhasa. Kalau tidak membawa dokumen lengkap, mereka yang berasal dari luar Lhasa bakal ditahan atau dipulangkan.
Namun, pemeriksaan itu tak berlaku bagi warga Tiongkok dari etnis Han yang menguasai perekonomian wilayah tersebut. Han adalah etnis mayoritas di seluruh wilayah negeri berpenduduk terbanyak di dunia tersebut.
Polisi khusus -semacam satuan elite SWAT di Amerika Serikat- juga bertebaran di berbagai sudut Lhasa, plus truk dan kendaraan yang dilengkapi senjata. Terutama di Biara Drepung, pusat kerusuhan pada Maret 2008.
Sumber-sumber The Times juga menyebutkan, satu rangkaian konvoi terdiri atas 14 truk yang masing-masing berisi 14 personel berseragam lengkap, mengenakan helm, dan memeluk senjata semiotomatis, termasuk sopir serta dua perwiranya juga terlihat lalu-lalang sepanjang hari kemarin.
Truk-truk pengangkut warga sipil bersenjata (paramiliter) tersebut bergerak pelan melewati jalanan kota sambil unjuk kekuatan. Tujuannya jelas, mengintimidasi warga Tibet agar tak turun ke jalan untuk menggelar aksi demonstrasi.
Sementara itu, aksi perlawanan 10 Maret juga diperingati warga Tibet yang tinggal di negara lain. Di Nepal dan India, misalnya, digelar demonstrasi anti-Tiongkok yang berbuntut ditangkapnya sejumlah demonstran. Warga Tibet di Taiwan juga menggelar doa bersama




Posting Komentar