"Ini dari kacamata pergaulan, aku ngerti efeknya. Aku menganggap ada pembelajaran. Kalau di pergaulan, ini jatuhnya sudah culas," ujar Kaka dalam jumpa pers yang digelar di "markas" Slank, Jalan Potlot III, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Selasa (23/3/2010).
Menurut Kaka, dalam catatan pergaulan hidupnya, siapapun yang culas akan sulit diterima. "Kalau orang culas di Potlot itu sangat tidak diterima," ujarnya lagi.
Bagi Kaka, apa yang dilakukan oleh produsen minuman keras asal Manado (Sulawesi Utara) itu juga sudah merusak citra positif yang dibangun oleh Kaka bersama teman-temannya dalam Slank. "Memang benar ini merusak imej yang sudah dibangun bertahun-tahun dan ini seperti menusuk dari belakang," tekannya.
Bahkan, Kaka terpaksa menanggung beban moral karena kasus tersebut. "Cerita di balik ini, setelah dapat kabar dari Manado, Rossa (Ketua Slankers Manado) sedih, selain juga shock, walaupun sudah diyakinin sama Bunda (Iffet Sidharta, Manajer Slank). Akhirnya, aku kan (merasakan) beban moral," sambungnya.
Kaka mengaku pula, ia juga mendapat sindiran dari rekan-rekannya. "Aku juga kalau ketemu anak-anak sering disindir, 'Ka, lo dibayar berapa?'," ceritanya. "Boro-boro dibayar, kalau dibayar mungkin gue sudah ganti mobil. Tapi, mobil gue tetap gitu-gitu aja," lanjutnya dengan mengulang jawabannya atas sindiran itu.
Karena itu, Kaka berusaha meyakinkan para Slanker agar tidak salah paham atas kasus yang menimpanya. "Buat Slankers, kami tidak terlibat apapun, tidak menyetujui apapun dari yang tertulis di botol itu. Teman-teman Slanker ngerti lah, karena bukan jalan Slank seperti ini," pesannya




Posting Komentar