Tersangka bernama Errol Rudolf Tjandranegara, 49, dan Padmi Savitri, 45. Dari pasutri yang beralamat di Jalan Pucang Anom Timur itu, polisi menyita 39 kartu kredit keluaran bank-bank ternama. Antara lain, BCA, Mandiri, CIMB Niaga, Permata, BNI, BII, UOB Buana. Enam buku tabungan Bank Mandiri dan satu buku tabungan BNI juga disita sebagai barang bukti.
Bukan hanya itu, anak buah Anom juga menyita 13 KTP palsu dan puluhan slip gaji palsu yang digunakan sebagai sarana untuk mengajukan aplikasi kartu kredit. "Kartu kreditnya asli, tapi KTP dan slip gajinya palsu," ungkap Anom.
Bukan hanya pasangan itu yang dibekuk. Polisi juga menangkap seorang pekerja bank yang terlibat. Namanya Lina Purwantiningsih, 23. Warga Jalan Panduk, Panjang Jiwo, tersebut adalah staf marketing kartu kredit di salah satu bank ternama.
Perannya dalam komplotan itu adalah memuluskan aplikasi awu-awu yang diajukan Errol. Setiap bulan Lina mendapatkan jatah Rp 400 ribu dari pasutri tersebut.
Kata Anom, sebenarnya bukan Lina saja yang bekerja sama dengan Errol dan istrinya. Tapi, hampir di setiap bank, pasutri itu punya "orang" yang tugasnya juga menerima dan memuluskan aplikasi yang diajukan. Namun, mereka masih diburu.
Buron bukan hanya orang dalam bank. Kini polisi juga repot mengejar Kopek. Dia sebut-sebut sebagai orang yang membantu dua tersangka membuat KTP dan slip gaji palsu. Sehari-hari buron itu bekerja sebagai tukang setting desain di salah satu rental di kawasan Ketintang.
Kata Anom, Errol dan Padmi cukup pintar dan rapi dalam menjalankan kejahatannya. Buktinya, sejak tiga tahun lalu mereka bisa leluasa membobol kartu kredit tanpa terendus pihak berwajib.
Untuk menyakinkan petugas bank, dua tersangka itu membuat perusahaan fiktif yang bergerak di bidang distribusi bahan kimia. Namanya PT Unggul Utama yang berkantor di Jalan Tenggilis Utara III. Mereka berperan sebagai pegawai yang bekerja di perusahan awu-awu itu. "Kebanyakan slip gajinya ya PT Unggul Utama," ucapnya.
Penyamaran tersangka bukan itu saja. Errol dan Padmi juga kerap menyamar sebagai pegawai di berbagai perusahaan. Misalnya, bidang otomotif, bangunan, dan mebel. Itu terungkap saat polisi menyita puluhan stempel palsu dari berbagai perusahaan. Tentu saja, itu digunakan untuk menstempel slip gaji palsu tersebut.
Kemarin (7/3) Anom menceritakan runtutuan pemalsuan tersebut. Awalnya pasutri tersebut datang ke Kopek untuk minta dibuatkan KTP palsu. Foto-foto pada KTP itu adalah foto Errol dan istrinya. Namun, identitas seperti nama dan alamat palsu. Itu berlanjut dengan pembuatan slip gaji.
Setelah jadi, identitas tersebut diajukan ke bank. "Tapi, tidak semua aplikasinya dikabulkan. Misalnya mengajukan tiga kartu kredit, yang lolos cuma satu. Itu kan lumayan," ujar perwira asal Jember tersebut. Sebab, plafon satu kartu kredit mencapai puluhan juta rupiah.
Errol dan Padmi benar-benar cerdik. Untuk menghindari kecurigaan staf bank, mereka tidak rakus. Artinya, saat menggunakan kartu kredit, mereka tidak foya-foya. Selain itu, tempatnya juga berpindah-pindah agar tidak mudah terlacak. Rata-rata satu minggu Errol dan Padmi hanya mengambil Rp 3 juta -Rp 5 juta setiap kartu kredit.
"Bayangkan saja dengan jumlah itu dalam sebulan mereka bisa mengambil uang berapa. Belum lagi kalau dihitung sejak tahun 2007," ujarnya. Anom juga yakin, kartu kredit milik pasutri tersebut lebih dari 39 buah. Bisa-bisa ratusan.
Tetapi, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Kejahatan itu terbongkar lantaran pasutri tersebut terlena. Setelah berkali-kali berhasil membobol bank, Errol dan Padmi mulai menjajakan jasa pembuatan kartu kredit dengan jalur ilegal. "Mungkin karena dia sudah banyak kenal orang dalam. Jadi, mereka yakin bisa," kata Anom.
Akhirnya bisnis itu tercium polisi. Unit pidum pun memperdalam informasi yang diterimanya. Polisi pun menyaru sebagai pelanggan Errol. Setelah yakin sasarannya adalah sindikat pembobol kartu kredit, Kamis (4/3) subnit III pidum membekuk pasutri itu di kantornya. "Mereka langsung nyerah," ucap Bripka Subroto, anggota Brimob Kompi II Dentasemen A Tandes yang ditugasi sebagai reserse di Polwiltabes Surabaya.
Di kantor Errol, polisi juga menyita dua komputer, satu mesin faks, satu printer. "Ini perangkat yang mereka gunakan untuk operasi," kata Kanit Pidum AKP Arbaridi Jumhur. Perwira asal Bandung ini mengatakan, kini polisi juga sedang mengembangkan pelacakan ke sindikat lain. "Tunggu saja," ucapnya yakin.




Posting Komentar