Menurut dia, tindakan anarkistis oleh siapa pun tidak boleh terjadi lagi di negara demokrasi ini. Karena itu, tidak adil kalau hanya aparat yang selalu diminta tidak anarkistis, sedangkan mahasiswa dan masyarakat tetap anarkistis. "Demo boleh, tapi jangan sampai anarkistis," pesan M. Nuh dalam penutupan Rapimnas IPNU di kampus UI Depok kemarin (7/3).
Dia menjelaskan, aksi mahasiswa seharusnya mengedepankan intelektualitas, pemikiran, dan gagasan. "Jadi, bukan otot yang dikedepankan dalam menyampaikan aspirasi," tambah mantan rektor ITS tersebut.
Mahasiswa seharusnya ikut memberikan pencerahan bagi masyarakat, tidak malah mencederai demokrasi dengan bertindak anarkistis. "Sebab, para pelaku anarkisme cenderung bersikap tirani," papar dia.
Meski demikian, sambung Nuh, dalam perjalanan berbangsa dan bernegara selalu ada kelompok kecil yang memilih jalur anarkistis, militan, radikal, hingga menjadi fundamentalis. Namun, dia yakin bahwa kelompok-kelompok tersebut tidak akan pernah menakhodai kepemimpinan bangsa ini. "Mereka hanya tetap berada di pinggir," terang dia.
Kisruh HMI dan polisi terkait dengan kasus perusakan Wisma HMI di Makassar belum sepenuhnya tuntas. Upaya mediasi antara kedua pihak masih buntu. Mereka baru sepakat untuk menjaga kedamaian Kota Makassar.
Di tempat terpisah, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Laode Ida menyesalkan tindakan brutal polisi. Apalagi, pengamanan demonstrasi di Makassar itu ternyata melibatkan Densus 88. Sejatinya, korps burung hantu tersebut dibentuk untuk memberantas teroris.
"Artinya, mereka menganggap para mahasiswa yang menentang kebijakan bailout Bank Century sama dengan teroris," tutur Laode. "Dengan terungkapnya fakta itu, patut dicurigai dana polisi untuk pengamanan demonstrasi tersebut juga berasal dari Bank Century," sindir wakil Sulawesi Tenggara itu.
Menurut Laode, cara-cara kekerasan yang digunakan oleh polisi terhadap para aktivis mahasiswa bisa berefek pada pembunuhan potensi fisik dan jiwa kritis. Padahal, para mahasiswa merupakan kader intelektual yang akan menjadi sumber pemimpin bangsa di masa depan.
"Kalau sampai terjadi eskalasi demonstrasi mahasiswa dan anggota masyarakat lain yang menimbulkan instabilitas sosial dan politik, jelas aparat keamanan yang sesungguhnya menjadi pemicu," ucapnya.




Posting Komentar