Acara tersebut dihelat di Hotel Sahid, Makassar. Sedikitnya 30 ulama atau mufti dari berbagai negara hadir. Mereka antara lain berasal dari Lebanon, Qatar, Oman, Syiria, Belanda, Malaysia, Arab Saudi, Sudan, Rusia, Mesir, Australia, Korea, Afghanistan, dan Maroko.
Selain peserta muktamar, hadir di acara itu beberapa petinggi PB NU. Termasuk, Ketua Umum Tanfidz PB NU KH Hasyim Muzadi, Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj dan Rais Am KH A. Sahal Mahfudz. Beberapa pejabat Pemprov Sulawesi Selatan dan Pemkot Makassar juga terlihat dalam dialog bertema Peran Ulama dalam Memajukan Islam itu.
Menurut rencana, hasil dari dialog itu bakal disampaikan kepada SBY serta diteruskan ke negara-negara di Liga Arab.
Usai acara dialog, para mufti itu melanjutkan pertemuan di kediaman mantan Wapres Jusuf Kalla di Jalan Haji Bau sekaligus acara ramah tamah.
Menurut Dr Amir Musthofa Hasannein Refaie el Wardani mufti dari Mesir, ada sejumlah rekomendasi dari dialog tersebut. Di antaranya, menyatukan persepsi dunia Islam untuk kemajuan Islam. "Selain itu, konsep-konsep strategis yang dibuat untuk mengungkapkan peradaban Islam, terutama dengan pendekatan keagamaan," katanya.
Dia menambahkan, kaum muslimin seluruh dunia harus membantuwarga Palestina yang selama ini teraniaya.
Namun demikian, dia berharap kelompok-kelompok yang ada di Palestina harus bersatu padu karena kebebasan tidak akan terwujud tanpapersatuan. "Perdamaian itu lebih baik. Israel akan pergi, jika kitabersatu," katanya.
Johan Mealemay, ilmuwan Belanda, dalam kesempatan itu bercerita seputar dunia Islam di Eropa. Menurut dia, Islam di sana pun cenderung terpolarisasi karena banyak mazhab. Apalagi, ada partai politik anti-Islam. Selain itu, Islam di Barat saat ini mulai mengkaji ulang studi Islam tradisional untuk dikembangkan secara terbuka.
Menanggapi keluh kesah Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz Al Mehdawi terkait persoalan Palestina, Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj mengatakan, persoalan yang dihadapi Palestina adalah persoalan umat Islam seluruh dunia.
"Kita semua mengakui bahwa persoalan Palestina bukan sekadar pesoalan Palestina, juga bukan hanya persoalan warga Arab, tetapi persoalan seluruh umat Muslim di dunia," katanya.
Wakil Direktur Rabithah Alam Islami Saudi Arabia Abdurrahman bin Abdullah Azaid dalam kesempatan itu berharap, dialog ulama dari berbagai negara menjelang Muktamar ke-32 NU itu dapat membuahkan berbagai kerjasama antar elemen negara muslim, terutama di kalangan generasi mudanya.
Dalam muktamar tersebut, seperti biasa, juga bakal dibahas sejumlah masalah aktual melalui agenda bahtsul masail. Rencananya, ada sebelas masalah yang dibahas dalam komisi bahtsul masail diniyah waqiiyah. Komisi itu, antara lain, akan memperbincangkan masalah hukum penyadapan. Baik melalui rekaman maupun langsung. Saat ini, pada era teknologi dan informasi, penyadapan dapat dilakukan oleh siapa pun dengan mudah. Mulai menggunakan alat yang sederhana sampai yang supercanggih. Yang marak adalah sadap oleh aparat penegak hukum, seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan polisi dengan dalih penegakan hukum.
Dalam draf materi komisi bahtsul masail itu, inti penyadapan adalah mengintip dan mengintai pembicaraan orang lain melalui telepon. Gunanya, mengetahui isi pembicaraan orang yang dimaksud, baik dalam rangka tujuan baik maupun jahat. "Lantas, bagaimana hukum mengintip dan mengintai pembicaraan orang lain melalui sadap telepon? Sahkah saksi atas perbuatan dengan cara memutar rekaman telepon yang disadap?" kata KH Saifuddin Amsir, ketua komisi bahtsul masail diniyah waqiiyah, dalam paparannya.




Posting Komentar