"Berdasar informasi hasil investigasi yang dikorek dari teman-temannya yang ikut tertangkap dan menyerah, yang bersangkutan (Pura Sudarma) memang gurunya Imam Samudera dan terkait dengan pengeboman Kedubes Australia 2004," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang saat menjadi pembicara dalam diskusi Masih Ada Teroris di Cikini, Jakarta, kemarin (13/3).
Menurut Edward, Jaja sudah terluka parah saat disergap dalam razia di Leupung, Aceh Besar. "Dia terluka dalam operasi di pegunungan, lalu akan dibawa lari ke luar Aceh," katanya. Namun, upaya menuju Belawan, Medan, melalui Meulaboh itu gagal karena tercium tim pemburu di Leupung.
Saat ditemukan tewas, Jaja sebenarnya sudah luka parah. "Bahkan, mereka membeli minyak wangi dalam jumlah banyak untuk menutupi bau busuk luka-luka yang dideritanya," kata jenderal dua bintang itu.
Namun, walau para anggota kelompok membenarkan bahwa yang bersangkutan adalah Jaja, polisi masih mengeceknya ulang. "Kami akan periksa secara teliti agar tidak simpang siur," katanya.
Dengan keterlibatan Jaja dan kelompoknya, berarti Dulmatin berhasil menyatukan faksi-faksi teroris dalam satu wadah. Mereka tidak hanya dari anggota Jamaah Islamiyah (JI), tapi juga kelompok Ring Banten, faksi Darul Islam, faksi Jundulloh, faksi Angkatan Mujahidin Islam Nusantara, dan faksi-faksi lain yang masih ditelusuri polisi. Ini yang harus diwaspadai.
"Kami mendalami keterkaitan satu orang dengan yang lain. Satu kelompok dengan yang lain. Karena itu, sebenarnya prioritas polisi adalah menangkap hidup agar bisa ditanya siapa saja temannya," kata Edward.
Mantan juru bicara kasus bom Bali 1 itu membantah kalau polisi sengaja menghabisi Dulmatin agar tidak diajukan ke persidangan. "Anggota di lapangan itu punya prosedur tetap, termasuk jika terancam jiwanya. Teroris kan memang sudah siap, melawan atau mati," ujarnya.
Jika memang hasil tes DNA dan pengecekan ciri fisik bahwa Pura Sudarma itu adalah Jaja, polisi benar-benar mendapat tangkapan kakap. "Kami sangat mengapresiasi anggota yang berhasil menyergapnya," kata Edward. Namun, kata dia, polisi baru mengonfirmasinya setelah seluruh tes lengkap.
Jaja memang bukan orang sembarangan. Lembaga peneliti terorisme dan konflik International Crisis Group (ICG) dalam laporannya menyebut bahwa Jaja adalah perekrut utama dalam kasus pengeboman Kedutaan Australia 2004. Dia bergabung di Darul Islam sejak 1985. Jaja cukup berada karena ikut memiliki dan mengelola sebuah perusahaan kurir, CV Sajira Media Karsa - nama yang sengaja dipilih karena huruf-huruf awalnya mengikuti inisial sang pendiri Darul Islam, Soekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.
Menurut sumber Jawa Pos, Jaja mulai memberikan latihan militer secara sporadis kepada anak buahnya pada 1996 di Malimping, Banten, melalui seorang pria bernama Nurudin alias Zaid Butong, ahli kungfu dari Solo. Dia adalah rekan sekelas di Afghanistan dari tokoh JI Thoriquddin alias Abu Rusdan dan Mustofa.
"Keponakan Jaja, yakni Iwan alias Rois, adalah pelaku pengeboman Kedutaan Australia 2004. Kang Jaja juga mengirim orang ke Mindanao, juga ikut menanggung pembiayaan serta menyediakan tempat untuk memberi pelatihan awal di Cimelati, Pasir Eurih, Saketi, di Banten," kata sumber yang mantan kombatan Afghanistan itu.
Ring Banten pimpinan Jaja tidak pernah menjadi bagian dari JI dan tidak berada di bawah tanggung jawab struktur komandonya. Namun, sejak 1999, kelompok tersebut menyelenggarakan kegiatan pelatihan militer secara terpisah di Pandeglang, Banten, yang kadang kala mengundang anggota JI untuk menjadi instruktur. Para mujahidinnya juga dikirim menuju lokasi konflik antaragama di Ambon dan Poso. Anggotanya sendiri dikirim ke Mindanao untuk mengikuti pelatihan.
Sumber Jawa Pos menyebutkan, hingga 2002 Ring Banten telah membeli puluhan pistol dan senapan otomatik, 25 ribu butir amunisi dan ratusan kilogram bahan peledak, serta dua peluncur granat bertenaga roket. "Yang ditemukan di Aceh sebagian adalah inventaris Ring Banten," kata ustad itu kemarin.
Jaja juga pernah mendirikan kamp pelatihan bersama di Pendolo, di pinggir Danau Poso, Sulawesi Tengah. Di antara para mujahidin di Poso, Pendolo dikenal sebagai markas bagi tiga kelompok terpisah: JI, Laskar Jundullah, dan Darul Islam (DI).
Ada dua faksi DI di sana. Yang satu dipimpin Jaja dan keponakannya Iwan alias Rois. Yang lain dipimpin seseorang yang setia kepada Ajengan Masduki. Dia anak didik Ahmad Said Maulana bernama Syaiful alias Fathurrobi alias Harun, asal Cilacap, Jawa Tengah.
Hubungan Ring Banten dengan JI di Poso meningkat pada 2000-2002. Mereka dibina sejak dilakukannya pelatihan bersama para veteran Afghanistan pada 1999.
Sebagian besar adalah anggota Mantiqi I, divisi wilayah JI yang mencakup Malaysia dan Singapura. Awalnya mereka dipimpin Hambali, karena seorang anggota Mantiqi I -Imam Samudera- berasal dari Banten, serta teman karib dan bekas teman sekelas di SMU dengan Ustad Heri Hafidzin, seorang anggota Ring.
Dalam diskusi yang sama, pengamat terorisme Mardigu Wowiek Prasantyo menilai bergabungnya kelompok-kelompok di bawah komando Dulmatin itu disebabkan keterbatasan gerak dan dana mereka. "Karena itu, nama jamaah ditinggalkan dan bergabung menjadi satu untuk saling mendukung. Lagi pula ideologi perlawanan mereka sama," katanya.
Bahkan, lanjut Mardigu, karena mendesaknya kebutuhan dana di kelompok gabungan para militan ini, mereka berusaha menjual ganja di Aceh. "Penjualan ganja di Aceh sangat mudah dan bisa untuk menghidupi gerakan. Mereka juga bisa merampok di Sumatera Utara," jelasnya.
Hal itu, kata Mardigu, terinspirasi oleh penjualan opium yang dilakukan beberapa faksi mujahidin di Afghanistan. "Dari pesan mereka yang di-upload di video Youtube jelas bahwa mereka dalam kondisi butuh dana dan butuh anggota baru. Mereka bahkan mengkritik anggota kelompok yang memilih tidak mengangkat senjata," ujarnya.
Mantan anggota Jamaah Imran yang pernah dipenjara dalam kasus pembajakan pesawat Garuda Woyla 1981, Umar Abduh, mengaku heran jika Jaja baru ditangkap sekarang. Dia menilai polisi tebang pilih dalam menangkap teroris. "Soal Jaja itu saya pernah kasih data ke polisi, tapi tak pernah ditangkap. Bahkan, saya konfirmasi ke komandan Densus waktu itu. Kata komandan itu, biar saja, tak usah ditangkap dulu," kata Umar.
Perusahaan ekspedisi milik Jaja, kata Umar, juga tak pernah diselidiki polisi. "Jadi, tebang pilih itu bukan hanya kasus korupsi, tapi juga kasus terorisme. Mereka dibiarkan saja dengan kepentingan tertentu," kata Umar yang dipenjara di era Soeharto itu.
Dikonfirmasi soal tudingan Umar, Edward membantah. "Mana mungkin kami tebang pilih. Justru karena berdasar hukum dan undang-undang, kami tidak bisa sembarangan. Misalnya, perusahaan itu bisnis murni, ya tidak bisa dikaitkan, atau orang ikut pengajian terus dianggap teroris, ya tidak bisa dong," katanya.
Edward mencontohkan beberapa anggota kelompok Dulmatin yang disergap di Pamulang. "Apa lantas setiap warga Pamulang itu teroris? Wah, polisi bisa dihujat ribuan orang dong," katanya.
Razia Teroris di Aceh
Sehari setelah kontak tembak tim gabungan Polri dan TNI dengan kelompok teroris di Leupung, Aceh Besar, Jumat pagi lalu (12/3), polisi kembali melancarkan razia. Bahkan, dalam razia di dua titik di Meulaboh kemarin (13/3) Polres Aceh Barat menahan dua orang dari luar Aceh yang dicurigai sebagai anggota kelompok teroris.
Sebagaimana dilaporkan Rakyat Aceh (Jawa Pos Group), Polres Aceh Barat mengerahkan seluruh personel dalam razia di Simpang Mapoli, Kecamatan Panton Reu, dan Kecamatan Arongan Lambalek, perbatasan Aceh Jaya-Aceh Barat. Razia digelar sejak Jumat siang setelah muncul kabar bahwa kawasan lintas pesisir barat Aceh menjadi jalur persinggahan dan kemungkinan dilalui kelompok teroris untuk menghindari kejaran polisi.
Dalam razia itu, polisi mengamankan dua orang yang dicurigai sebagai anggota kelompok teroris Aceh saat melintas di Kecamatan Arongan Lambalek Sabtu dini hari kemarin sekitar pukul 00.30.
Dua pria yang dicurigai itu adalah Ridwan asal Purwokerto dan Ranu. Pria yang terakhir mengaku berasal dari Aceh, namun memiliki SIM (surat izin mengemudi) dari Makassar. Kedua pria itu berencana bepergian dari Kota Meulaboh ke Lhokseumawe.
Salah seorang di antara mereka memiliki KTP (kartu tanda penduduk) ganda, sementara seorang lainnya tak punya KTP. ''Saat diperiksa, mereka memberikan keterangan berbelit-belit. Melihat gelagat seperti itu, petugas mengamankan mereka untuk diperiksa lebih lanjut di mapolres,'' kata seorang polisi.
Rencananya, kedua pria tersebut akan dijemput tim Polda Aceh untuk diperiksa lebih lanjut guna memastikan apakah mereka bagian dari kelompok teroris di Aceh.
Hingga tadi malam, razia makin ditingkatkan oleh polisi untuk mempersempit ruang gerak kelompok teroris dalam melarikan diri. Polres Aceh tidak bersedia memberikan keterangan kepada wartawan. Alasannya, informasi soal razia teroris hanya lewat satu pintu, yakni Kapolri




Posting Komentar