Salah satu upaya menghibur sang ibunda adalah dengan merayakan ulang tahunnya yang sebenarnya jatuh pada 8 Maret lalu. Sehari sebelumnya, empat putri Gus Dur diam-diam membicarakan cara merayakan ulang tahun ibundanya agar berkesan.
"Kami berpikir keras untuk bisa membuat sesuatu yang bisa membahagiakan Mama. Saya sampai keluar masuk toko. Tapi, tetap saja tak ketemu bentuknya seperti apa hingga 8 Maret dini hari," cerita putri bungsu almarhum Gus Dur, Inayah Wulandari, saat perayaan susulan ultah Sinta Nuriyah, di Ciganjur, Jakarta Selatan, kemarin (13/3).
Baru setelah lewat tengah malam itu, putri sulung Gus Dur, Alissa Qotrunnada, akhirnya memberikan solusi. "Kami diajak mengucapkan selamat saja sama-sama," lanjut Inayah. Maka, ide itu pun dilaksanakan pada 8 Maret tengah malam. Saat itu empat putri Gus Dur masuk ke kamar mamanya. Agar tetap ada nuansa ulang tahun, mereka mencari-cari kue di kulkas. Ternyata di lemari pendingin itu ada beberapa potong kue berumur sekitar semingguan. Setelah kue didapat, dicarilah lilin hingga ketemu potongan lilin seadanya. Kue dan lilin itulah yang kemudian dibawa masuk ke kamar Ny Sinta.
"Mama saat itu surprise dan kelihatan bahagia. Tapi, kami sempat takut juga, karena kue yang dimakan itu sudah lama disimpan di kulkas," kata alumnus Fakultas Sastra UI itu, disambut tawa para keluarga dan kerabat yang hadir.
Kemarin, ultah Ny Sinta kembali dirayakan dengan sangat sederhana. Acara itu dihadiri beberapa orang saja. Hanya sekitar puluhan anggota keluarga dan beberapa kerabat yang hadir. Mereka berkumpul di ruang tengah kediaman almarhum Gus Dur. Ultah susulan itu dirayakan bersamaan dengan acara pertemuan keluarga Bani Wahid.
Perayaan ultah tersebut hanya ditandai kue ulang tahun yang ditempatkan di meja kecil. Bagian tengah kue dihias buah stroberi dan di bagian sisinya dipasang foto Sinta Nuriyah yang sedang tersenyum ceria. Dua lilin berbentuk angka enam dan dua tak ketinggalan melengkapi aksesori kue sederhana berukuran sekitar 50 x 30 sentimeter itu. "Kalau ini jangan khawatir ikut makan, masih baru dibuat kok. Tidak seperti yang kemarin (saat hari H ultah Sinta Nuriyah)," gurau Inayah, kembali.
Selain keempat putri, menantu, dan cucu, tampak hadir beberapa saudara kandung Gus Dur. Di antaranya Aisyah Wahid, Sholahuddin Wahid (Gus Sholah), Umar Wahid, dan Lily Chadijah Wahid.
Mereka bersama kerabat lain bergantian menyalami Sinta Nuriyah. Senyum terus mengembang dari bibirnya. "(Acara) Ini inisiatif anak-anak saja. Mungkin karena kebetulan lagi ada acara pertemuan keluarga di sini. Jadi, sekalian dibarengkan," ujar Sinta.
Pertemuan keluarga Bani Wahid itu dilakukan sebelum peringatan susulan ultah Sinta. Pertemuan itu khusus membahas kelanjutan Yayasan Wahid Hasyim sepeninggal Gus Dur yang selama ini bertindak sebagai pimpinan.
Yayasan ini, salah satunya, membawahkan Pondok Pesantren Al Munawaroh, Ciganjur, yang dirintis sejak awal 1980-an oleh Gus Dur. Pada pertemuan itu, adik-adik Gus Dur dan sejumlah generasi ketiga Bani Wahid sepakat melanjutkan pembangunan pesantren. "Sebab, ini juga cita-cita Ibu Sholichah Wahid, ibunda kami semasa hidup," ujar Aisyah Wahid.
Pertemuan tersebut juga memutuskan bahwa pengelolaan Yayasan Wahid Hasyim sudah diturunkan kepada generasi ketiga (cucu KH A. Wahid Hasyim). Susunan pengurusnya, Atik binti Umar Wahid sebagai ketua, didampingi Irfan Wahid (putra Gus Sholah), dan Alissa Qotrunnada Wahid (putri sulung Gus Dur) sebagai wakil.




Posting Komentar